Poligami, Pantaskah?

Dalam sebuah buku disebutkan bahwa dalam suatu penelitian ilmiah di Amerika, ternyata memang dalam diri laki-laki sudah tertanam keinginan untuk mempunyai lebih dari satu pasangan.
Terlepas dari benar tidaknya penelitian itu, ada yang pernah bertanya, jika memiliki banyak harta adakah keinginan untuk berpoligami? Tidak dengan jawaban ya atau tidak, pertanyaan itu dijawab dengan sebuah jawaban yang malah bertanya kepada si penanya. Pantaskah berpoligami?


Seorang pengusaha atau pemilik suatu perusahaan, akan melebarkan usahanya dengan membuka cabang atau perusahaan baru JIKA usaha atau perusahaannya sukses ia kelola. Maka dengan berbekal kemampuan dan kesuksesannya itu,bisa dikatakan ia berhak dan pantas untuk membuka usaha baru.
Seorang suami, dalam hal ini pemimpin keluarga, punya tanggung jawab untuk membuat orang-orang yang dipimpinnya -tentu saja istri dan anaknya- menjadi baik dan lebih baik. Ukuran suksesnya bisa ditentukan dengan kebahagiaan, keharmonisan, keshalihan dan ketentraman dalam bahtera rumah tangganya. Amanah yang diberikan Allah dapat dijaga dengan baik sebagai rasa syukur pada-Nya. Dan apa yang terjadi pada orang-orang yang pandai bersyukur? BELIAU akan menambah nikmat-Nya. (Qs.14:7). Nikmat dalam rumah tangga itu dapat berupa kualitas maupun kuantitas. Itu terserah pada-Nya. Tak heran jika ada orang-orang sederhana, yang tak punya banyak harta namun dianugerahi lebih dari satu anak dan atau istri tapi dia mampu untuk menafkahi mereka.
Dalam perjumpaan langsung dengan Ustadz Arifin Ilham, beliau bercerita bahwa ada seorang temannya yang punya dua istri dan nikmat berupa rezeki yang Allah anugerahkan kepadanya bertambah dua kali lipat daripada saat ia mempunyai seorang istri. Dan hal ini karena dia pandai bersyukur dengan menjaga dengan baik amanahnya.
Ada hikmah yang menyadarkan ketika mengikuti kajian lepas kerja bersama Ustadz Tengku Zulkarnain setiap Rabu malam di Daarut Tauhiid Jakarta. Orang-orang yang berpoligami beralasan, bahwa mereka berpoligami karena takut dan daripada berzinah. Ustadz Tengku menolak alasan itu karena mereka sudah mempunyai istri. Jadi bagaimana mungkin mereka mengatakan daripada takut berzinah? Apakah istri pertama mereka sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan biologis mereka? Ternyata tidak.
Orang-orang yang terus menerus berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik dalam keluarga mereka, "melayani" anak dan istri mereka, menjaga amanah dengan sebaik-baiknya, membangun pondasi tauhid yang kuat dalam keluarganya, dan semua itu diniatkan dalam rangka bersyukur atas semua nikmat yang mereka dapatkan, sebenarnya telah memantaskan diri untuk ditambah nikmat-nikmatnya. Dan orang-orang yang sukses membangun keluarga yang samara, jauh lebih pantas daripada orang-orang yang punya banyak harta. Maka poligami, sudah pantaskah??

Wallahu 'alam

No comments

Powered by Blogger.