How To, bukan How If
Sering sekali jika kita mendapat suatu ujian berupa kesulitan, atau masalah, yang kita pikirkan adalah "Nanti gimana" bukan "Gimana caranya". Banyak hal yang terlalu kita khawatirkan. Padahal menurut penelitian sampai 80% kekhawatiran kita tidak terjadi.
Suatu contoh mudah adalah ketika kita kekurangan uang. Misalnya pada bulan ini banyak sekali pengeluaran2 mendadak yang tidak teranggarkan. Akhirnya baru saja awal bulan, uang gaji sudah tidak ada. Maka wajar saja jika kita khawatir bagaimana memenuhi kebutuhan kita setidaknya hingga gaji bulan depan tiba. Kewajiban kita adalah berusaha bagaimana kita bisa mendapat tambahan uang untuk itu. Tapi bukan kewajiban kita untuk memikirkan bagaimana jika sampai tidak bisa, tidak cukup atau tidak terpenuhi. Bekerja untuk mencari rizki adalah kewajiban kita, tetapi memberi rizki adalah hak Allah.
Maka masalah akan menjadi kecil jika kita tidak memikirkan hasilnya nanti. Cukup dipikirkan bagaimana cara mendapatkan hasil. Dan masalah akan semakin besar jika kita malah memfokuskan diri memikirkan nanti mau makan gimana, nanti mau bayar utang gimana, nanti buat ongkos gimana, dan gimana2 lainnya yang menghabiskan energi yang seharusnya digunakan untuk berusaha. Padahal hal2 tersebut belum tentu terjadi.
Sudah kodratnya jika berusaha pasti mendapatkan hasil. Dan Allah Maha Adil. Bagaimana jika kita sudah berusaha tetapi hasil yang didapat belum mencukupi? Hasil dari usaha tidak selalu berupa materi, bahkan ada yang lebih besar dari materi. Tapi sanggupkah kita melihat hal itu sebagai hasil? Bisa saja hasil itu berupa kemampuan kita yang semakin terasah, pengguguran dosa (karena ada dosa2 yang hanya bisa dihapus dengan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup), peningkatan keimanan, dan yang terpenting adalah mendapat ridha dari Allah swt.
Sungguh luar biasa akhlak seorang mukmin. Jika ia diberi nikmat, ia bersyukur. Jika ia diberi kesulitan, maka ia bersabar.
wallahu 'alam
Suatu contoh mudah adalah ketika kita kekurangan uang. Misalnya pada bulan ini banyak sekali pengeluaran2 mendadak yang tidak teranggarkan. Akhirnya baru saja awal bulan, uang gaji sudah tidak ada. Maka wajar saja jika kita khawatir bagaimana memenuhi kebutuhan kita setidaknya hingga gaji bulan depan tiba. Kewajiban kita adalah berusaha bagaimana kita bisa mendapat tambahan uang untuk itu. Tapi bukan kewajiban kita untuk memikirkan bagaimana jika sampai tidak bisa, tidak cukup atau tidak terpenuhi. Bekerja untuk mencari rizki adalah kewajiban kita, tetapi memberi rizki adalah hak Allah.
Maka masalah akan menjadi kecil jika kita tidak memikirkan hasilnya nanti. Cukup dipikirkan bagaimana cara mendapatkan hasil. Dan masalah akan semakin besar jika kita malah memfokuskan diri memikirkan nanti mau makan gimana, nanti mau bayar utang gimana, nanti buat ongkos gimana, dan gimana2 lainnya yang menghabiskan energi yang seharusnya digunakan untuk berusaha. Padahal hal2 tersebut belum tentu terjadi.
Sudah kodratnya jika berusaha pasti mendapatkan hasil. Dan Allah Maha Adil. Bagaimana jika kita sudah berusaha tetapi hasil yang didapat belum mencukupi? Hasil dari usaha tidak selalu berupa materi, bahkan ada yang lebih besar dari materi. Tapi sanggupkah kita melihat hal itu sebagai hasil? Bisa saja hasil itu berupa kemampuan kita yang semakin terasah, pengguguran dosa (karena ada dosa2 yang hanya bisa dihapus dengan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup), peningkatan keimanan, dan yang terpenting adalah mendapat ridha dari Allah swt.
Sungguh luar biasa akhlak seorang mukmin. Jika ia diberi nikmat, ia bersyukur. Jika ia diberi kesulitan, maka ia bersabar.
wallahu 'alam
Leave a Comment